Jumat, 04 Oktober 2013

Statusku 'Mahasiswa si Tukang Antar Jemput'

Hehe.. saya mau isi waktu luang ba'da jum'atan dengan bercerita pengalaman kegiatan saya di sela-sela kuliah.

Kalian pernah nggak waktu kecil dulu, TK, SD, SMP, atau SMA dianterin sama ayah atau ibu? Saya yakin pasti pernah :) Karena pada saat itulah momen-momen yang paling ditunggu saat baru keluar dari kelas. Dimana ayah? Kok lama ya? Asiik ayah sudah dateng! pulang dulu ya temen-temen.. seperti itulah kira-kira perasaan saat kita menanti jemputan ayah kita. #mengenang

Sekarang saya sudah besar. Mahasiswa yang sudah malu bila diantar jemput orangtuanya. Lebih tepatnya bukan malu, akan tetapi kampus saya berjarak 200 km dari rumah orangtua. Sangat tidak mungkin sekali saya diantar jemput seperti dahulu kala. Disamping itu #alhamdulillah saya sudah dipegangi sepeda motor semenjak semester 5 kemarin. Well, pada akhirnya terakhir saya diantar jemput oleh ayah saya terakhir sekitar kelas 6 SD, atau lebih tepatnya 10 tahun yang lalu.


Berlatar cerita antar jemput tersebut, saya memiliki cerita yang menarik yang mungkin sedikit sekali dari kebanyakan mahasiswa di negara saya yang melakukannya. Penasaran?

Yap! saya menjadi 'Ayah Prematur'.
What? prematur?
Iya.. tapi bukan ayah karena proses 'kecelekaan', atau maksudnya bukan jadi ayah karena menghamili perempuan yang belum mahrumnya.

Istilah ayah prematur itu saya gunakan ketika saya telah merasakan sendiri yang mungkin hampir mirip perasaan orangtua kita saat mengantar dan menjemput kita. Atau mungkin lebih gampangnya, disela-sela kegiatan kuliah, saya memiliki profesi sebagai tukang antar jemput. Mengantar dan menjemput anak orang lain (saya masih single.. he).

Mengapa diawal saya menyebut ayah prematur. Ini ada kaitannya dengan profesi saya sebagai tukang antar jemput. Saya pribadi merasa ketika mengantar anak tersebut, saya berada pada posisi seorang ayah (meski pada kenyataannya bukan ayah anak tersebut).

Ketika anak kecil tersebut memeluk berpegangan pada pinggang saya, saya bernostalgia kembali ke masa anak-anak dulu. Oh ternyata seperti ini perasaan ayah ketika dipeluk oleh anaknya. Tenang dan damai. Ayah akan berprinsip, anak ini harus sampai tiba di sekolah dengan aman dan nyaman. Ya, kira-kira seperti itulah mungkin perasaan seorang ayah ketika mengantarkan anaknya dan saya mengalaminya sendiri.

Dari situ saya belajar banyak. Ternyata selama ini ayah saya yang telah mengantarkan saya, kakak saya, adik-adik saya ketika TK hingga SD telah melakukan banyak sekali pengorbanan. Dengan sabar dan penuh rasa tanggungjawab, seorang ayah ingin sekali anaknya menjadi seorang yang benar-benar bisa berguna bagi agama dan keluarganya. Tak berkurang sedikit pun rasa cinta yang mendalam untuk anak-anakanya. Apalagi ketika sudah tiba disekolah, sang ayah selalu menitipkan doa pada kita saat bersalaman 'Belajar yang baik ya, Nak!' sambil mengusap kepala kita.

Tak pantaslah apabila saya durhaka padanya. Tak pantas pula bila saya menghardik atau bahkan lebih parah melukai hati seorang ayah. Karena pengorbanan yang telah diberikan tak sebanding dengan balasan yang mungkin belum pernah saya lakukan. Mudah-mudahan ayah saya diberikan balasan yang setimpal di akhirat kelak. Amin

Pada akhirnya, saya beruntung sekali bisa menjadi ayah prematur. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan disini. Dan ini menjadi modal berharga kelak saat memiliki keturunan.



***tambahan***
Start Agustus 2012 hingga tulisan ini diturunkan masih berstatus Mahasiswa si Tukang Antar Jemput :)
Read More

Kamis, 03 Oktober 2013

Belajar untuk Mengajarkan

Jika kau kira mengajar itu susah, berarti pertanda kau belum mencobanya.
Jika kau kira mengajar itu susah, berarti pertanda selama ini kau belajar dengan percuma.
Jika kau kira mengajar itu susah, berarti pertanda kau belum siap untuk dilahirkan di dunia.

Untuk apa belajar tapi tak pernah mengajar?
Tahukah engkau, sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya?

2006 - Mengajar kelas 1-2 SD dan Mentor Tahfidz Juz Amma
2007 - Mengajar kelas 4-6 SD dan Mentor Tahfidz Juz Amma
2008 - Mengajar kelas 6 SD dan Mentor Tahfidz Juz Amma
2010 - Mengajar Privat kelas 2 SMP dan Trainer
2011 - Mengajar Privat kelas 5 SD dan Traniner
2012 - Mengajar Privat SD-SMP dan  Mentor Tahfidz Juz Amma
2013 - Mengajar Privat SD, Mengajar santriwan/ti pesantren dan  Mentor Tahfidz Juz Amma.

Tidak terasa sudah 8 tahun terlewati. Sudah banyak pelajaran yang didapatkan.
Mungkin hal ini dianggap biasa bagi orang lain, namun hati ini berkata 'Ini adalah amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi'.

Selamat belajar dan semoga kita semua mampu menjadi pengajar, minimal menjadi pengajar untuk diri sendiri untuk mengerti akan makna 'Inni Jaa'ilun fil ardhi khaliifah' (sesungguhnya Aku menjadikan seorang khalifah di muka bumi - Al Baqarah: 30)'


Read More

Selasa, 01 Oktober 2013

October's Struggle!



Welcome October! (2013)

Harapan terbesar dalam hidup akan selalu ada. Harapan terbaik dalam hidup akan selalu ada. Hanya satu yang terkadang datang dan pergi, yaitu jiwa 'semangat'.

Semangat bisa diibaratkan seperti kayu bakar yang benar-benar kering yang apabila tersulut oleh api akan langsung terbakar. Berbeda dengan niat. Niat bisa diibaratkan dengan api yang menyulut kayu bakar. Sebesar apapun api bila kayu yang dibakar adalah kayu yang basah akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membakar keseluruhan kayu tersebut.

Ketika sudah berniat ingin mengerjakan sesuatu, maka carilah kayu bakar yang benar-benar kering itu. Cari kemana saja, bisa jadi kayu bakar itu telah kita miliki akan tetapi kita tidak sadar bahwa kita telah memilikinya.

Mungkin penulis bisa memberikan satu hint yang pernah penulis sendiri rasakan efeknya. Ketika dimanfaatkan, ternyata kayu kering ini benar-benar ada pada diri kita. Benar-benar langsung membuat flare yang berkobar-kobar. Salah satu hint tersebut adalah:





For: +Helga Aditya Rizqi Geovani and +nursih dwi hastuti
Miss u all then I decided to made this message for me and both of you. Keep fight!
Read More

Minggu, 22 September 2013

Laporan Tiga Minggu

I never thought that you would be the one to hold my heart

Hampir sebulan terlewati. Saya rasa masih banyak kekurangan disana sini, mulai dari pengaturan jadwal, puasa, shalat malam, hingga yang paling urgent adalah penyelesaian skripsi yang tak kunjung usai.

Awal datang kesini sangat semangat menggebu, inginnya skripsi selesai dalam waktu dua minggu. Buat jadwal super ketat selama satu minggu, mulai dari jadwal ketemu dosen, ke perpustakaan, hingga pengurusan berkas pendaftaran, semuanya saya tulis di kalender.



Masuk ke minggu kedua, semuanya mulai seperti karet yang sedang kepanasan. Semuanya mulai longgar. Minggu kedua pikiran terpecah antara konsul dan kuliah. Padahal minggu kedua itu adalah periode pendaftaran terakhir skripsi bila ingin wisuda bulan oktober. Finally, akibat pengaturan jadwal yang salah, akhirnya kembali gagal untuk maju ke meja sidang perdamaian dunia.

"Everything made by us and make a risk"

Minggu ketiga saya mendapat surprise. Entah ini karena terpaksa atau menilai dari keahlian saya (ehm!), pihak Pesma Firdaus menunjuk saya untuk menjadi pengajar mahasantri baru. Nggak tanggung-tanggung, langsung dua matakuliah, tiga jam seminggu, OMG! Cuma bisa berdehem dan bergumam "Bisa nggak ya?"

"Be useful to many people"

Sekarang minggu akhir minggu ke tiga dan insyaAllah saya bisa mengambil hikmah dari semua tindakan yang telah lalu kemudian bisa memperbaikinya untuk masa depan saya. See all!
Read More

Selasa, 10 September 2013

Falling Down then Get Up

Bolehkan kita terjatuh? Bagi orang yang idealis mungkin hal ini dianggap suatu hal yang harus dihindari. Satu ungkapan bagi orang yang idealis adalah 'nggak boleh salah sedikit pun! titik!'. Namun ada juga yang berpandangan bahwa boleh saja terjatuh.

On my opinion, boleh-boleh saja kita terjatuh. Bahkan terjatuh ke dalam lubang yang dalam sekalipun. Saya rasa ketika saya terjatuh akan ada suatu keajaiban yang muncul dalam diri kita, istilahnya mungkin bisa disebut 'mutiara hati berbicara'. Mungkin saja setelah proses kejatuhan itu akan timbul suatu daya dobrak, daya dorong yang luar biasa untuk bisa keluar dari situasi kritis tersebut. Faktanya pun cukup banyak orang yang dulunya pernah terjatuh kemudian mampu berbalik arah dan membuat kehidupannya lebih baik lagi daripada sebelum terjatuh.

Second opinion, boleh-boleh saja kita terjatuh asal dua hal ini tidak boleh dilanggar;
Yang pertama adalah ketika berada dalam proses terjatuh jangan sampai kita membawa orang lain ikut terjatuh. Eh beneran ini lho! Kadang ketika dalam proses terjatuh ini kita membuat-buat alasan dan mulai menyalahkan orang lain atas proses keterjatuhan kita. Kadang pula kita tidak sadar, pada saat kita terjatuh ternyata pada saat itu pula kita menjatuhkan orang lain. Jika digambarkan seperti ada kemacetan di jalan tanjakan, lalu ada sepeda motor yang menuju ke atas tidak kuat menahan beban dengan rem. Otomatis perlahan ia akan mulai turun ke bawah dan tidak sadar bahwasannya dia sedang membahayakan orang yang berada dibelakangnya. Harusnya ketika ia sadar akan hal itu ia putuskan untuk turun dari motornya dan langsung menuju ke pinggir. Sama seperti saat kita dalam keadaan sulit, coba kita perhatikan sekitar kita, apakah ada orang lain yang kita rugikan dengan keadaan kita. Jika iya, maka segeralah menepi dan usahakan buat momentum untuk kembali lagi.

Kedua kita harus segera bangkit dari proses jatuh tersebut. Logikanya tidaak ada orang yang betah berada dalam lubang jurang, pastilah ia mencari jalan keluar. Nah, segera lakukan itu.
Read More

Senin, 09 September 2013

Only Curhat

Well, there's harmony when together with some new peoples, share everything, share laughing, laugh deeply and no limit around us.

First time being honest I would say don't care with them. I always busy and busy every time. No more chance to them to talk with me. Go early and back lately. Only said 'Hi' or just raising eyebrow when we meet.

All it rolling 180 degree when we start orientation together. They have honest heart, I can look from their eyes. I thought they have a something unique. I like them..


Welcome to our paradise!



Read More

Minggu, 08 September 2013

Menyiasati Perbedaan

Terkadang memang agak kesal dengan yang namanya kehidupan sosial. Serasa semua tidak adil dihadapan kita. Tak semua seperti yang diinginkan. Selalu ada pro dan kontra, setuju dan tidak setuju, suka dan tidak suka.

Mungkin pribadi yang suka rapih, suka bersih kemudian dipertemukan dengan orang yang belum terbiasa hidup rapih dan bersih akan merasa jengkel setiap saat. Bagi orang yang terbisa rapih tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak berada pada tempatnya akan secara reflek merapihkannya. Berbeda dengan yang tidak terbiasa, kadang mereka terihlat cuek dan itu dianggap hal yang sepele. Satu-dua kali mungkin tak mengapa bagi yang terbiasa rapih, tapi bila hal itu terus-terusan terjadi maka ini bisa menjadi masalah yang serius. Jadi ingat pepatah "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit". Pepatah ini tidak hanya berlaku pada saat nabung uang saja, tapi juga berlaku saat menabung amarah.


Bagi yang mengerti akan perbedaan karakter seseorang mungkin kejadian tersebut bisa dijadikan pelajaran. Tidak semua bisa diaatasi dengan amarah. Pasti ada jalan keluar yang lebih mudah, lebih enjoy dan lebih nyaman. Salah satunya dengan saling bertukar pikiran. Apa yang ia suka dan apa yang tidak disuka perlu masing-masing pribadi ketahui.

Beri waktu untuk saling bertukar pikiran. Ajak secara tatap muka. Utarakan apa yang akan dibahas, dan buat perjanjian bahwa masing-masing harus mengutarakan apa saja yang ada didalam pikiran. Setelah perjanjian sudah ditepati barulah kita utarakan maksud kita, apa yang sudah menjadi kebiasan kita dan utarakan juga bahwa kita tidak suka apabila kebiasaan kita diganggu. Setelah semua tuntas barulah berikan waktu juga bagi lawan bicara kita untuk mengutarakan apa yang ada dibenaknya. Karena di awal sudah ada perjanjian semua akan saling menghargai satu sama lain, insyaAllah perbedaan yang selama ini dipendam akan hilang.
Read More