Senin, 06 Oktober 2014

If I Have Own Room - Part 1

If I've own room, I need a tin of red color. I will paint part of my wall with red color interval with white color that use to make a line or some arouse words. I thought  a red color can explain how big my ambition. The red symbolize braveness, courage, powers. It seems suitable with my personality that have many ambitions, dreams, and will always bring it into reality.

I always imagine that my rooms will have a red color on the part of wall. When I open the door, I will see that color with having arouse words. So, every I open the door I will recalled with those words. There are many words on my mind. Sometimes, I'll take "You must go there!!" continued by the name of countries I should stay, like liverpool, makkah, japan, korea, also turkey. Or I will joined that color with white color that used to draw a world map. So ambitious! I can selfie every time I want... :) I can signing the country I should go and marked the country I ever arrived with a photos!

If I've own room, I will buy some board, painted with white color, then make them lying on my wall and used to take some book above it. Absolutely, I love reading a book. I always buy a book theme with true story, like an adventure, full of struggle and sacrifice. Or maybe I ever collecting a motivation books, but I don't really love it. Only read and felt better then yesterday and has been motivated. But, it always hold out only a day or three days. After that, u know what I mean.... yeah! hehe..

I ever seen on youtube about "How to install book shelve on the wall". The first time I watched it I said "Amazing!! It so easy! I can install only 10 minutes" but later when I would to try it by myself "Oh my GOD, It makes me hard to thinking!". It is dare to me!

Hooaamm...!! I think so tired today.. see next post ya!


Read More

Minggu, 21 September 2014

Merangkai Asa Melambungkan Impian

Akhir-akhir ini saya mulai berpikir untuk membuat suatu perubahan dalam kegiatan sehari-hari. Saya berpikir, "kok kegiatan saya cuma gini-gini aja. Berangkat pagi, pulang malam, tidur, berangkat pagi, pulang malam, tidur, dst tanpa henti". Dan kegiatan tersebut sudah hampir saya lakukan selama 2 bulan.

Dalam hati berkata lain, "Saya tidak bisa seperti ini terus."

Lamunan saya seringkali kembali ke beberapa bulan yang lalu. Saat-saat masih dalam pengerjaan proses skripsi. Saat itu, masih ingat betul dalam alam pikiran, saya sangat bersemangat sekali mengejar beasiswa ke LN meski dalam proses pengerjaan skripsi. Maaf, bukan maksud saya untuk sombong, tapi saya sangat senang sekali bila mengingat masa-masa tersebut. Saya masih ingat letak-letak kertas tempelan bertebaran disana-sini. Ada yang di tembok, di meja belajar, laptop, sampai ranjang tidur pun tak ketinggalan. Kertas-kertas itu berisikan target, list, info, hingga motivasi untuk diri sendiri.

Saat itu sangat bersemangat sekali. Tiap kali ada tawaran beasiswa langsung saya bookmark, dan yang cocok langsung saya print dan saya isi. Saya masih ingat sekali pernah suatu ketika saya mengisi formulir yang menggunakan bahasa cina. Dengan bantuan translate akhirnya form itu terselesaikan.. meski pada akhirnya tak diterima.. haha.. itu saking inginnya kuliah di LN, sampe-sampe asal-asalan, asal tembak, hhehe

Gara-gara semangat itu pula saya harus rela belajar TOEFL hingga EPS-TOPIK sendirian. Ya! sendiri! Jujur, saya katakan, saya tidak punya uang bila harus mengikuti kursus. Jangankan kursus, untuk sekedar buku-buku untuk belajar TOEFL dan EPS-TOPIK saja masih pinjam, kan hemat!. 

Untuk TOEFL saya biasa pinjam ke perpustakaan kampus. Yang bagus saya pinjam lalu difotokopi dan saya pajang di kamar.. hehe.. ya enggak lah, pasti langsung saya pelajari. Terkadang pula bila batas peminjaman sudah full (maks boleh pinjam 5 buku) saya merelakan membagi waktu antara pengerjaan skripsi dan mempelajari TOEFL di perpustakaan kampus. Sambil mengunggu dosen datang, saya sempatkan belajar TOEFL di lorong fakultas. Biasanya sebelum berangkat sudah saya persiapkan materi listening di hape dan mencetak kunci jawaban di selembar kertas kecil. Jadi, sambil nunggu dosen, saya listening sendirian. Kata temen, saya asyik dengerin lagu sendirian, padahal kenyataannya belajar toefl, hehe..

Sedangkan untuk EPS-TOPIK ini yang awalnya agak berat. Agak berat karena harus memulai semuanya dari awal. Jujur saya katakan saya tak punya dasar bahasa korea sedikit pun. Saya pun mencari strategi agar mampu menguasai dasar-dasar bahasa korea secepat yang saya bisa. Salah satu strategi saya yaitu belajar seperti saat saya belajar iqro. Pertama-tama harus mengerti huruf hija'iyyah. Begitu juga dengan korea, saya akhirnya harus menguasai dahulu hangeul. Tak butuh waktu yang lama. Saya yang kala itu benar-benar niat langsung menyediakan waktu sendirian selama satu hari di dalam kamar. Pada akhirnya saya mampu hafal diluar kepala hangeul dalam tempo tidak lebih dari satu hari (kira-kira hanya 8 jam) berikut dengan cara menulisnya. Yap! Bila mengingat kembali hal tersebut, saya katakan bahwa diri saya mampu!

Hari-hari berikutnya pun terasa mudah. Saya mulai menghafal angka, seperti "Hana, dul, set, net" hingga kata kerja semisal, "chulbalhada, geunmuhada, dll (cari sendiri ya artinya.. hehe)". Dan dalam seminggu, eh nggak sampe kayaknya deh, saya sudah mampu menulis kalimat berikut dengan tenses-nya. Oh ya, saya setiap harinya (setelah menguasai hangeul) hanya menyediakan waktu 2-3 jam sehari. Beh, beh, beh... bisa kan? saya bisa, kalian pasti lebih bisa!

Dan untuk bahasa korea dasar ini saya cuma belajar dari internet. Download materi, print lalu terapkan! Kemudian, tak berhenti disitu saja. Saya pun melanjutkan ambisi saya agar mampu menguasai korea dasar. Saya pinjam buku-buku (dasar nggak modal!) dari temen yang kebetulan sudah di korea lalu fotokopi dan mencoba soal-soalnya.. praktis dan efisien! hehe

Saya ingat betul hasil yang saya dapatkan dari usaha sekeras itu. ITP saya yang awalnya hanya sekitar 450-470 paling tinggi langsung melesat menjadi 566, alhamdulillah. dan untuk yang bahasa korea yang berjuang mati-matian juga, akhirnya mendapat jawaban di bulan ketiga, saya direkomendasikan untuk melanjutkan kuliah S2 oleh seorang professor disana (mengapa saya tak jadi kesana? cari di post2 sebelumnya ya?).

-------

Oke, itu hanya masa lalu dan ternyata saya mampu. Saya bisa! Saya cerdas! Saya diberi kelebihan! Saya sama sekali berbeda dari yang lain! Saya punya cara sendiri. << *ini motivasi untuk diri sendiri lho... cmiw

Bila mengingat kembali masa-masa itu, selalu ada motivasi yang muncul untuk segera melangkahkan kaki kembali di jalur kemenangan. Jalur yang harus kembali ditata agar kembali sempurna untuk mewujudkan cita-cita.
Read More

Rabu, 03 September 2014

To My Friend

Senang rasanya punya temen yang sekarang (baru saja) melanjutkan kuliahnya S3 di Jerman dengan beasiswa LPDP,,,
Dulu, ketika masih di pesantren saya pernah sekamar dengannya. Juga sekelas dari SMP sampe SMA.

Orangnya sih biasa aja. Maksudnya tidak menonjol banget. Salah satu buktinya, ia belum pernah berada diantara tiga besar peringkat kelas (klo nggak salah). Tapi untuk urusan hafalan, ia termasuk orang yang tercepat.

Pernah saat saya sekamar dengannya, saat kelas 7 semester II, balapan setoran hafalan qur'an. Saya dan 13 anak kamar lainnya, setiap hari harus setoran hafalan qur'an ba'da magrib dan ba'da subuh kepada wali kamar saya, namanya Hisyam.

Kamar kami, 104, ada tiga orang yang hafalannya sudah banyak, dan  saya termasuk dalam hitungan. Ia dan seorang lagi, adalah kompetitorku dalam urusan hafalan. Kami bertiga selalu paling banyak setoran. Saling kejar-kejaran. Tapi satu yang saya catat, teman saya yang satu ini sanggup menghafal 1 halaman dalam waktu 15 menit. joss! Kagum! Kadang kalo sudah begini, rasanya perjuangan kita berdua sia-sia. G bakal sanggup ngejar. Biasanya kami ngejarnya ya hafalan diluar jam setoran, misal waktu dzuhur atau ashar. Dengan begitu persaingan tetap seimbang.

Oh ya, diawal sudah saya katakan, bahwa ia orangnya biasa-biasa aja ketika pelajaran. Tapi saat menginjak bangku kelas 12, ia berubah total! Totality.

Ia yang memang berasal dari keluarga yang mampu, disupport oleh orangtunya dengan kumpulan buku-buku latihan. Bukunya sampe satu kardus. Menurut anak-anak pesantren, mengerjakan buku latihan satu kardus adalah hal yang luar biasa!

Hampir setiap kali tryout nilainya selalu yang tertinggi. Semenjak itu saya secara pribadi kagum padanya. Kagum dengan perjuangannya. Kagum dengan semangatnya. Dan saat saya bertanya padanya kemana ia akan berlabuh selanjutnya, ia menjawab "Gw mau masuk Teknik Elektro ITB!!", jawabnya dengan tatapan optimis.

Dan ternyata kekaguman saya tak salah. Mimpinya akhirnya diijabah! Ia diterima masuk Elektro ITB. Subhanallah!!

Tak sampai situ saja, setelah lulus ia langsung melanjutkan program fast track yang hanya ada di kampus-kampus besar, hingga lulus S2. Sehingga total S1-S2 ia habiskan hanya 5 tahun. Begh!

Pada akhirnya, awal juni kemarin saya sempat bertanya padanya, kemanakah ia akan berlabuh. Ia menjawab, "Alhamdulillah us, gw udah diterima di Eindhoven, Belanda. Tinggal cari dana nya aja."

Well, Allah memutuskan hal yang lain. Saat ini ia sudah berada di Jerman. Tak seberapa jauh dari Belanda hanya selangkah bila lihat di peta. Mudah-mudahan ilmumu bermanfaat kawan! Terus berjuang! Jaga sholatmu, jaga akhlakmu! :)



To: Muhammad Abduh
for: Open letter from your past friend
Read More

Rabu, 27 Agustus 2014

Jangan Remehkan Struktur Kelas!

Pernahkah kalian memikirkan untuk apa sih dulu kita rajin membuat struktur organisasi? Kenapa setiap ganti semester atau ganti tahun ajaran baru di hari pertama pasti kita membuat sebuah struktur. Entah itu struktur kelas ataukah struktur organisasi intra ataupun ekstra.

Dulunya saya berpikir, “Buat apa sih bikin bikin kayak gini? Toh nggak ngaruh cuma jadi pajangan aja.” Beneran lho! Jangan salah, saya paling males ngebuat yang kayak beginian. Rasanya, Cuma ngabisin waktu. Saya malah mikir, “Alaaaaahh.. asal tunjuk aja terus tulis, beres!”. Sesimpel itu loh!

Kali ini pola pikir itu semacam menghantam balik pada diri saya. Seakan-akan saya kena karma karena sempat meremehkan masalah membuat struktur.

Kali ini saya diminta untuk me-maintenance struktur perusahaan tempat saya bernaung. Jangan kalian bayangkan struktur yang saya pegang hanya segede upil yang sering saya acuhkan. Yang saya (dan tim) garap adalah struktur yang panjangnya sepanjang Anyer-Panarukan (Pernah ngukur? Sama saya juga belum, hehe). Yang biasanya saya buat struktur cuma 1 menit selesai, kali ini satu minggu tidak cukup. Yang biasanya membuat struktur yang berlaku paling lama 1 semester, saya membuat struktur tahun ini, prediksi setengah tahun kedepan, dan struktur setahun kedepan.  Super!!

Ini contoh screenshoot-nya (jangan lupa, panjangnya dikalikan 10)


 Haha, bisa bacanya? Itu sudah saya zoom-out hingga tidak bisa diperkecil lagi... haha

 Dan yang kotak-kotak itu isinya nama orang, jabatan, pendidikan, tanggal mulai kerja. Jumlahnya hingga hampir 3000 orang. Luar biasa! Haha.. keder keder dah! Kami pernah mengerjakannya pada hari sabtu & minggu, dari pagi sampai malam, dan belum selesai,,, hebat!!! Haha

Ya, sekarang buat temen-temen yang masih sekolah ataupun masih rajin ikut organisasi, jangan kalian remehkan urusan membuat struktur. Bisa-bisa kalian seperti saya. Bingung tak terkendali. Rajin-rajinlah berlatih membuat struktur. Kalo perlu buatlah perencanaan struktur kelas kalian hingga lulus.. itu klo perlu.. hehehe

Oke deh, saya mau bobo dulu.. bye!


Read More

Selasa, 26 Agustus 2014

Aku Bahagia!


Hari-hari kuhabiskan waktu hanya di kantor saja. Tak ada yang berubah hingga sekarang. Berangkat jam 7 (masuk jam 8) dan pulang diatas jam 8 atau 9 malam. Dan entah mengapa yang saya rasakan sekarang adalah saya betah untuk berlama-lama di kantor.

Oke, tak bisa dipungkiri lagi, meski kadang saya suka mengeluh karena sering pulang malam. Tapi dalam hati yang terdalam ternyata saya bahagia disini. Padahal pekerjaan saya disini menghitung dan mengalkulasi data setiap harinya yang jumlahnya mencapai puluhan ribu data. 

Mungkin jika kalian bayangkan itu adalah pekerjaan yang berat. Iya sih, awalnya saya katakan berat. Namun setelah belajar setahap demi setahap, saya merasakan pekerjaan itu mudah, meski membutuhkan waktu berjam-jam di depan komputer. Well, saya sekarang mulai percaya bahwa tak ada pekerjaan yang berat. Berat hanya terjadi bila kita belum pernah mencobanya atau tak tahu tekniknya. Serius deh!

Saya bahagia? Atau bisa jadi ini hanya efek sementara karena  terlalu sering berada di kantor? Bertemu dengan orang-orang baru. Karakter yang berbeda-beda. Umur yang berbeda. Tua muda berpadu. Hal yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya.

Tak pernah sekalipun sebelumnya saya pernah berkolaborasi atau berada satu tim dengan para senior yang umurnya terlampau 15-20 tahun dalam menuntaskan pekerjaan besar. Di kampus dulu pun saya (jujur) jarang aktif dengan para dosen. Malas. Saya lebih suka aktif di luar kampus. Andai kalian tanya kepada para dosen almamater saya mungkin tak ada yang kenal saya, bahkan (mungkin) dosen pembimbing saya juga sudah lupa. Hehe.

Disini, saya banyak sekali belajar memahami karakter masing-masing orang. Ada yang periang, ada yang pendiam, ada yang suka usil, ada yang baik, ada yang humoris, ada juga yang homo-ris. Ada yang g pernah senyum sama saya (hehe.. ada lho!), sampai ada yang suka cerita-cerita jorok (apapun yang diceritakan seringkali berakhir dengan kata jorok, dan itu dianggap biasa.).

Saya sendiri telah banyak belajar sebelumnya ketika masih di pesma firdaus malang (duh! rindunya). Ridwan, salah satu teman terbaik saya di pesma berpesan kepada saya “Us, kamu nanti diluar sana harus sudah siap. Harus memahami karakter orang. Tidak bisa memaksakan sesuai kehendakmu sendiri.” Yap! Saya akan mengikuti alur namun tak mau sampai masuk ke dalam lumpur. Saya tetap harus bisa membatasi diri. Mana kadar maks dan mana kadar min.

Atau bisa jadi saya bahagia karena teman saya hanya ada di kantor saja. Di tempat singgah saya, teman saya hanya keluarga om saya. Tetangga depan, samping, belum ada yang kenal. Gimana mau kenal? Saya masuk pagi pulang malam, senin-minggu nonstop. Wajar bila saya lebih betah di kantor. Saya rela-relain dateng pagi-pagi sekali, satu jam sebelum jam kantor masuk saya sudah ada stay di meja. Dengan datang pagi, saya punya waktu menulis yang lebih lama sambil menikmati secangkir kopi nikmat di sebelah saya. Ya, suasana pagi yang hening memang sangat cocok untuk menulis.

Oke, kesimpulannya sampai saat ini saya bahagia tinggal di kantor karena beberapa hal yang saya sukai. Lalu, bagimana dengan kamu?

Read More

Sabtu, 23 Agustus 2014

Menuntut Ilmu Adalah Kebutuhan


Akhirnya saya menyadari ternyata menuntut ilmu itu adalah suatu kebutuhan bukan sekedar kewajiban.

Butuh dan wajib adalah dua kata yang berbeda. Butuh bisa diartikan lahir dari keinginan diri sendiri, semisal saya butuh nasi untuk makan. Sedangkan wajib adalah suatu perintah yang harus dilakukan, tak peduli orang itu butuh atau tidak yang penting hanya bertujuan menggugurkan kewajiban tersebut. Salah satu contohnya, shalat. Ada yang sekedar menggugurkan ada juga yang memang karena butuh berinteraksi dengan Allah. Sehingga masing-masing niatannya tersebut berdampak dengan apa akan ia tuai kedepannya nanti.

Balik lagi ke topik. Mungkin bisa dibilang telat. Karena saya baru menyadarinya ketika baru selesai kuliah. Namun saya beruntung bisa mengetahuinya secara dini. Maksudnya, belum terlalu tua.. mwehehe.. secara gitu saya masih 20an, hehe

Saya menyadarinya di saat saya telah mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang banyak menyita waktu. Saking menyitanya, saya seakan sudah tak peduli lagi lemburan. Saya sekan sudah tidak peduli lagi hari libur digadaikan untuk sebuah pekerjaan. Saya seakan sudah tidak peduli lagi bila mandi hanya sehari sekali. Saya seakan sudah tak peduli lagi dengan makan yang kadang hanya sekali. Saya seakan tidak peduli lagi dengan informasi berita-berita terkini. Bahkan klub idola saya, Liverpool FC, sudah sering saya duakan. Dan yang terakhir saya seakan tidak butuh rumah untuk kembali, karena hidup saya sebagian besar habis di kantor. Rumah hanya tempat istirahat malam dan mandi pagi. Intinya benar-benar menyita waktu.

Awal-awal sebelum hari pertama masuk kerja, saya sudah memiliki niatan untuk mengikuti kursus bahasa. Saya mengira bakal bisa menyempatkan waktu untuk menggali potensi diri dengan mengikuti kursus, karena memang jam kerja saya hanya dari jam 8 hingga 5 sore.

Disini banyak sekali lembaga kursus yang menyediakan kelas untuk para karyawan. Biasanya jam 7 hingga jam 10 malam. Dengan melihat jam pulang, saya bisa memprediksi seharusnya saya bisa mengikuti kursus tersebut. Namun, realita yang saya jalani berbeda jauh dengan prediksi awal.

Rata-rata jam pulang saya adalah jam 8 malam keatas. Bahkan sudah sering pulang diatas jam 9 malam yang artinya saya berada di kantor selama 13 jam. Setengah hari saya habiskan waktu saya di kantor. Luar biasa!

Saat ini tinggal saya yang harus mencari celah agar keinginan ini dapat tersalurkan.  Untuk apa uang banyak namun tak manfaat? Untuk apa bekerja habis-habisan namun keilmuan tidak berkembang? Untuk apa? Untuk apa? Untuk apa?

Dari situlah saya menyadari betul bahwa ternyata saya masih kangen dengan bangku belajar. Saya rindu suasana belajar. Saya ingin diajari. Saya ingin memiliki teman-teman belajar lagi.  Dan saat ini saya benar-benar butuh belajar bahasa untuk mendongkrak efektivitas keilmuan saya bila suatu saat nanti diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup di ‘luar’ sana.



*Saya pernah kehabisan motivasi, namun saya masih menyimpan ‘tujuan’ tesebut. Itulah yang membuat saya tetap hidup*
Read More

Tak Perlu Takut untuk Bekerja

Week-3

Bekerja bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Akan tetapi bekerja adalah sesuatu yang perlu kita hadapi. Terutama untuk para cowok beken, semisal saya.. mwehehe

Bisa dikatakan saya cukup beruntung bisa mendapatkan pekerjaan disaat yang tepat. Maksudnya, dua bulan setelah wisuda saya sudah diterima kerja tanpa usaha yang begitu keras. Jujur, saya tidak pernah mempersiapkan test yang berkaitan dengan pekerjaan sama sekali. Baik itu test wawancara, psikotest, komputer, leadership, dll. Yang saya lakukan adalah mengirim sebanyak-banyaknya lamaran... haha.. Ga' percaya? nih liat screenshootnya..


Pekerjaan yang saya lamar pun sembarangan. Saya yang lulusan IT melamar berbagai macam profesi, mulai dari programmer, admin, helpdesk, hingga profesi sales. Mungkin terlihat miris di mata kalian. Kok bisa-bisanya saya sembarangan dalam memilih pekerjaan. Mengapa tidak melamar pekerjaan yang berkaitan dengan ilmu yang telah saya dapat? Kan sayang?

Namun, itulah saya. Saya adalah orang yang paling mengerti batas kemampuan diri sendiri. Saya mengenali sekali kekurangan saya, dan saya juga mengerti kelebihan saya. Saya berprinsip, saya akan banyak belajar di lingkungan kerja nanti dan harapannya ilmu saya bisa bermanfaat.

Dan ternyata benar! Meski jenis pekerjaannya terlihat agak melenceng dari jurusan saya, namun disini saya merasa mendapatkan ilmu yang banyak sekali yang belum pernah saya dapatkan di kursi kuliah. Dan tak dinanya lagi ilmu saya sedikit banyak ternyata bermanfaat di lingkungan pekerjaan saya.

Di tempat saya bekerja saya memahami betul alur data komunikasi client server yang tak semua orang di kantor saya mengerti. Begitu juga tentang desain-desain. Saya yang punya hobi membuat desain dikala senggang akhirnya dimanfaatkan kantor untuk membuat desain kaos untuk seluruh karyawan perusahaan.

Tak perlu takut. Ketakutan hanya berasal disaat kita belum mencobanya. Setelah mencoba, maka ketakutan itu sedikit demi sedikit akan hilang, bahkan tak berbekas. percaya deh!

Oh ya lupa, ada satu lagi yang sering saya lakukan, yaitu berdoa. Yap! Do'a adalah sumber segala kekuatan. Salah satu do'a yang sering saya panjatkan ialah minta diberikan kemudahan dan kelancaran rezeki. Intinya do'a itu harus selaras juga dengan ibadah wajib kita. Klo cuma berdo'a tapi yang wajib keteteran dan dinomor duakan, mungkin sekarang saya masih luntang lantung di rumah.

Yuk, ayuk.. semuanya akan berbuah manis kok. Hukum kekekalan energi mengatakan, semakin banyak berbuat baik maka kemudian hari akan menuai kelipatan buah baik. Begitu juga sebaliknya. Mungkin dengan persiapan doa itulah hingga akhirnya saat ini saya bisa mendapatkan pekerjaan. Bagaimana? Berani mencobanya?

***Ssttt... minggu ini gajian pertama saya lho X3 dan saya nggak tahu mau dibuat apa..
Read More