Senin, 25 Juli 2016

TAK SEPENDEK AKAL MANUSIA

Tulisan ini merupakan bagian dari project sambung-menyambung tulisan yang saya tulis bersama kak Dian Yuni Pratiwi dan Novie Octavia. Tulisan sebelumnya bisa dilihat di label #ProjectMenulis 


Hujan deras turun di kotaku tepat saat aku hendak melangkah keluar kantor di jam pulang. Alih-alih menunggunya reda, aku tetap memilih untuk pulang karena teringat janjiku pada Ibu untuk membuatkannya makan malam. Aku pun berjalan menuju tempatku menunggu angkot. Rindangnya pepohonan ditambah dengan adanya suara-suara burung dan jangkrik di sepanjang jalan ini membuat aku merasa keluar masuk hutan setiap hari ketika pergi dan pulang kantor. Menyenangkan!

 Angkot yang aku tunggu pun datang. Aku langsung masuk dengan terburu-buru, khawatir derasnya hujan akan semakin membuatku basah kuyup. Di dalam angkot, aku dikejutkan dengan sebuah pemandangan menarik: seorang anak kecil yang sedang ketakutan dan seorang ibu yang memeluknya erat dari samping. Terlihat sekali bahwa anak itu sedang khawatir. Mungkin karena khawatir mainannya yang masih diletakkan di pekarangan kehujanan, atau karena khawatir dimarahi ayahnya karena ia menghilangkan jam tangan barunya, atau karena mengkhawatirkan masa depan. Eh, tunggu! Masa depan? Ah, tentu tidak mungkin anak sekecil itu mengkhawatirkan masa depan! Diam-diam, itu adalah khawatirku yang tak ingin aku ceritakan kepada banyak orang.

Tak lama kemudian, ponselku bergetar, seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri meneleponku untuk ketiga kalinya di hari ini,

“Assalammualaikum, dek!” sapa sebuah suara di seberang sana.
“Waalaikumsalam. Ada apa, teh?” aku tahu pertanyaanku sangatlah basa-basi karena sebenarnya aku paham apa yang akan ditanyakannya.

“Gimana dek, apakah kamu sudah bersedia untuk berproses dengan temanku itu?”
“Aku sebenarnya tidak keberatan, aku pun telah mengenal ihwan itu dengan baik. Tapi, aku merasa perlu memikirkan ini lebih lanjut dulu.”
“Masih karena alasan ketidaksiapanmu dalam hal finansial?”
“Begitulah, teh ...”
“Baiklah kalau begitu, silahkan dipikirkan dengan bijaksana ya, dek! Ingat, ada Allah yang akan menghapuskan segala khawatirmu.”

Telepon pun terputus, menyisakan aku yang terdiam memandang layar ponsel. Ah! Ini adalah kekhawatiran masa depan yang tak bisa aku ceritakan kepada orang-orang. Bagaimana bisa aku menghkhawatirkan ini? Bukankah takdir Allah tak sependek akalku sebagai manusia?

***

            Tak lama kemudian, tibalah aku di rumahku yang sederhana namun penuh kedamaian. Segera aku mengucapkan salam, mencium tangan ibu, bergegas membersihkan diri, lalu menyiapkan makan malam. Aku tak ingin membuat ibu dan adik semata wayangku menunggu terlalu lama.  Aku ingin segera melihat mereka menikmati masakanku. Dan bagiku melihat mereka berdua menyantap masakanku dengan begitu lahapanya adalah hal yang paling membahagiakan.  Setelah itu kami pun makan malam, diselingi dengan percakapan dan canda tawa yang penuh kehangatan. Tiba-tiba ibu mengagetkanku dengan candaan yang membuatku tersipu,

            “Masakanmu makin lama makin enak, Tar. Udah cocok buat masakin pasangan dan mertua.” Ibu tersenyum lebar menggodaku.
            “Iya Bu. Doain ya, Semoga Tari bisa segera bertemu dengan jodohnya.” Jawabku sambil menunduk malu.
            “Apa tidak ada ikhwan yang sedang berproses denganmu, Tar?” Ibu menatapku sendu, Raut wajahnya berubah menjadi lebih serius.

            Ruangan hening sejenak.

            “Hmm sebetulnya ada, Bu. Temannya Teh Rani tapi Tari ragu. Tari khawatir akan masa depan finansial. Sebetulnya, iya adalah pemuda yang baik agama dan akhlaknya, hanya saja pekerjaannya tidak tetap Bu.”
            “Tari, masih ingat nasehat Ibn Atha`illah yang sering dikatakan Almarhum ayahmu. Ibn Atha`illah menulis dalam kitabnya ‘Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu karena segala yang telah diurus untukmu oleh Allah SWT tak perlu engkau turut sibuk memikirkannya’. Masih ingatkan Tar dengan nasehat itu?”   
     
            “Iya, Bu.” Jawabku singkat.
           “Allah Maha Kaya, Maha Penyayang, Maha Pengatur, Maha Pemberi Rejeki. Kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang sudah diatur oleh-Nya. Ibu ingin menceritakan kisah anak gagak. Tari sudah tahu tentang kisah ini?”
            “Belum, Bu.”

            “Ketika anak gagak baru menetas, belum ada bulu yang tumbuh menutupi tubuhnya. Tubuhnya masih terlihat putih kemerahan. Karena berbeda, sang induk merasa bahwa bayi gagak itu bukanlah anaknya. Sehingga ia tidak memberikan makanan untuk sang bayi. Apakah bayi gagak itu mati kelaparan? Tidak nak. Allah telah mengatur rejeki untuk anak gagak itu. Bayi gagak mengeluarkan suatu cairan dari tubuhnya. Cairan yang dapat mengundang serangga-serangga untuk mendekat. Dan serangga-serangga itulah makanan untuk bayi gagak.” Ibu menatap Tari sendu, “Apa yang Tari bisa pelajari dari kisah ini?”

            “Allah telah mengatur segala sesuatu untuk hambanya, Bahkan untuk rejeki bayi gagak pun telah diatur oleh-Nya. Apalagi tentang urusan manusia, pasti telah diatur dan dijamin oleh Allah, Bu.” Kataku.

            “Nah, akhirnya Tari mengerti. Jadi Tari tak perlu mengkhawatirkan apa-apa yang telah dijamin oleh Allah. Tugas Tari hanyalah berusaha sebaik mungkin, berdoa dan tetap berprasangka baik akan rencanaNya. Kalau menurut Tari, agama dan akhlak ikhwan itu baik, ya sudah berproses saja dengannya. Siapa tahu memang dia orang yang telah dipersiapkan Allah untuk Tari.”

            “Iya, Bu. Tari akan istikharah lagi untuk memantapkan hati."

***


Sebenarnya bukan kali ini saja hatiku bergetar-getar tak karuan. Satu sisi hatiku berkata ‘iya’ satunya lagi berkata ‘tidak’. Sama seperti ketika aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah atau kerja. Suatu keputusan yang sulit. Lanjut kuliah tapi belum ada biaya, sedangkan bila bekerja belum tentu bisa disambi dengan kuliah. Ahh.. keputusan yang sulit.

Disaat momen-momen seperti itulah aku memutuskan untuk istikharah. Meminta petunjuk kepada sang Pemilik Hati. Karena urusan jodoh memang seringkali dikaitkan dengan ‘rahasia Ilahi’ yang mengejutkan. Ada yang baru saja kenal tiba-tiba langsung menikah. Akan tetapi lebih banyak lagi yang sudah lama dekat namun apa dikata akhirnya dipisahkan oleh sekat.

Sejak saat itu, aku mulai memikirkan tawaran teh Rani. Sambil terus berdoa, aku pun mulai mencari-cari tema bacaan tentang pernikahan. Sampai suatu ketika, secara tak sengaja, ketika jam istirahat aku melihat Mutia sedang duduk sambil sesekali tersenyum sendirian di sudut ruangan,

“Hayyyoo!!! Mutia, kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri?” tanyaku penasaran.
Eh, Tari.. jadi malu.. hehehe” Mutia langsung buru-buru melepas headset miliknya.
“Kamu lagi nonton apa, Mutia? sepertinya seru sekali!” selidikku pada Mutia
Ah,, enggak kok Tari. Bukan apa-apa.” Sanggah Mutia. Padahal jelas terlihat raut mukanya terlihat malu. Ia berusaha menutup-nutupi layar gadget miliknya.

“Iiihh.. Mutia gitu ya sama aku,,” godaku sambil bermimik muka tanda kecewa.
“Tapi jangan bilang siapa siapa ya, Tari? Pleassee…”
“Emmm,, kira-kira gimana?” Aku terus menggoda Mutia. Sambil memalingkan wajahku dari hadapan Mutia.

“Iya deh.. iya.. tapi jangan bilang siapa-siapa loh ya?” pinta Mutia penuh harap
“Ehehehe… terus-terus gimana? Apa yang tadi Mutia tonton?”
“Sssttt… jangan keras-keras Tari, banyak orang.”

Akhirnya kami mulai menonton, sambil sesekali mata mereka melirik kanan-kiri berharap tidak ada orang yang iseng mendekati mereka.

“Loh Mutia, ini kan ustad yang sekarang lagi naik daun? Kajiannya banyak tersebar dimana-mana.”
“Iya Tari,,, Nah yang sekarang kita tonton ini temanya tentang NIKAH! En,, Iii,, Kaa.. Ahh!” Jawab Mutia penuh semangat membara.
“Hahahaha… pantesan kamu sembunyi-sembunyi gitu nontonya, takut ketahuan ya???” godaku.
“Hehehe.. Tari bisa aja.”
“Memangnya Mutia sudah ada calon?”
“InsyaAllah sudah ada Tari.. tapi ini masih rahasia kita berdua ya”
“Wahhh… selamat! Selamat! Gimana ceritanya?” Aku pun memeluk pundak teman mutia.

“Itu panjang banget Tari, aku juga nggak nyangka.”
“Nggak nyangka gimana?”
“Iya,,, aku itu belum pernah kenal sama sekali dengan dia”
“Serius? Terus apa yang membuatmu yakin dengannya?”
“emm apa yaaaa,,,?”
“Pertama, aku sangat senang dengan niat baik orangnya. Dia langsung menemui orangtuaku, berkenalan dan mengutarakan niatnya untuk menikah”
“Kedua, aku sempat selidiki juga ke beberapa temannya, semua mengatakan ‘dia baik agamanya juga perangainya’.”
“Dua hal itu itu yang membuatku yakin!”
“Sesimpel itu kah?”
“Iya, kan ada hadits yang mengatakan “Jika datang melamar kepadamu orang yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi di bumi dan kerusakan yang luas – HR Tirmidzi”.”
“Iya.. iya… aku pernah tahu itu Mutia.”
Tapi ganteng nggak Mutia?” godaku lagi
“Ya ampun Tariii.. !!” kami berdua pun lalu tertawa dan melanjutkan kembali nonton video kajian di youtube sampai jam istirahat usai.

Lepas itu, Aku semacam mendapatkan pencerahan dari Mutia. Aku jadi bertambah yakin bahwa keraguanlah yang menghambat semuanya, padahal ada Allah yang menjamin masa depan miliknya. Selama itu baik tak perlu ragu, karena ragu bersumber dari tidak tahu.
“Mungkinkah itu jawaban dari doa-doa istikharah ku?”

Segera ku ambil gadget dan mengetik, “Assalamualaikum, Teh,,, Apakah ikhwan itu masih ingin berta’aruf denganku? Jika iya, silahkan bertemu dengan bapak ku di rumah.” Sambil membaca Bismillah dan menghembuskan nafas berat, Tari kirimkan pesan itu.

“SENT”

*) Tari juga sempat menanyakan judul video itu. Judulnya ’Mahkota Pengantin’, video kajian berseri di youtube. Cocok bagi yang belum menikah ataupun sudah menikah.
Read More

Kamis, 21 Juli 2016

Kisah Dimulai!

Malam itu, Fikar, seorang pemuda berusia 20-an sedang asik dengan gadget miliknya. Ia bermain gadget sambil tiduran diatas lantai. Hal itu sering ia lakukan bila baru tiba di kontrakannya. Hari ini ia baru saja pulang dari kampus setelah menuntaskan mata kuliah terakhir di hari itu.

"ting!" gadget miliknya berbunyi, tanda notifikasi

"Asiikk.. dapet banyak like!!! " gumamnya dalam hati setelah melihat postingan yang baru ia kirim.

Berkali-kali gadget miliknya meneriakkan bunyi "ting!". Semakin banyak suara yang keluar, semakin giranglah hatinya. Entah mengapa... Memang anak muda zaman sekarang lebih mudah merasa senang saat ada notifikasi masuk ketimbang bercengkrama dengan teman. Lebih senang tinggal di dunia maya ketimbang dunia nyata.

Dari sekian banyak notifikasi yang Fikar dapat, ada satu akun yang membuatnya penasaran. Benar-benar membuatnya penasaran!

Ia penasaran karena biasanya disaat postingannya mendarat, disaat itulah para likers mendaratkan jempolnya di postingan yang baru ia daratkan. Tapi kali ini beda! Ada satu akun yang mendaratkan jempolnya tidak hanya di postingan baru miliknya, namun di beberapa postingan lawas, malahan bisa dibilang super lawas.

Kejadian ini baru pertama kali ia dapati. Akun tersebut berulang kali mendaratkan jempol dalam waktu bersamaan atau mungkin hanya selisih beberapa menit. Biasanya hal ini wajar, dan si pemilik akun posting akan mengira, "Ah, ini pasti ulah stalker!"

Tapi bagi Fikar beda. Ia sama sekali tak berpikiran likers tersebut ada stalker. Yang ada dibenaknya;

"Ini siapa???" tanya Fikar penasaran dalam hati.

Setiap notifikasi yang muncul, akan terlihat preview gambar profil pemilik akun. Dari deretan-deretan notifikasi itu Fikar hanya fokus pada satu akun. Preview gambar profil pemilik akun juga menambah kegusaran hati Fikar. Katanya dalam hati, “Cantik!”

Dari situ mulailah Fikar menelusur akun tersebut. Putaran-putaran buffer membuatnya tambah gregetan ingin segera mengetahui siapakah pemilik akun tersebut. Ia merasa putaran buffer seakan berputar sudah lebih dari satu jam!, padahal 10 detik juga belum lewat. “Ah, lama sekali!” ketusnya dalam hati.

Akun tersebut blank alias putih tak berwarna. Tak ada apa-apa kecuali gambar profil yang tak bisa diperbesar dan sebuah tombol follow. Tak pikir panjang otaknya langsung memberikan instruksi ke syaraf-syaraf yang langsung membuat bertekuk lutut otot jari jempul yang kemudian menekan tombol ‘follow’.

Dari situ kisah ini dimulai!



*****
Tulisan ini hanyalah fiktif belaka dan akan menjadi cerita yang bersambung. Untuk melihat sambungan ceritanya, silahkan teman-teman masuk ke label "Sudah Saatnya!"
Read More

Senin, 18 Juli 2016

Prasangka

Tulisan ini merupakan bagian dari project sambung-menyambung tulisan yang saya tulis bersama kak Dian Yuni Pratiwi dan Novie Octavia

Jam tanganku tepat menunjukkan pukul setengah tujuh malam dan aku masih terjebak di jalanan yang padat merayap sejak sejam yang lalu. Terjebak dalam angkutan umum sepi yang hanya ada aku dan seorang pemuda berambut gondrong dengan tato bergambar naga di lengan kanannya. Berkali-kali aku melihat jam tanganku dan jalanan yang tetap saja dipenuhi kendaraan yang berjejer seperti semut. Aku semakin khawatir tidak sempat menunaikan kewajibanku pada Allah. Aku pun gelisah dan curiga pada pemuda dihadapanku ini. Aku takut kalau tiba-tiba ia berniat buruk padaku. Bukankah niat buruk dapat datang pada keadaan yang memberikan kesempatan?

Akhirnya aku memutuskan untuk turun di sekitar perumahan warga, karena aku kira pasti ada masjid disana. Aku berjalan menyusuri jalan perumahan yang sepi dengan penerangan seadannya. Tiba-tiba terdengar langkah seseorang dibelakangku dan ternyata itu adalah pemuda bertato tadi. Dadaku berdebar, aku takut. Aku mempercepat langkahku. Berdoa dalam hati semoga tidak ada kejadian buruk yang akan menimpaku. Tak berapa lama, akhirnya aku melihat sebuah masjid. Aku semakin bergegas agar terhindar dari pemuda itu. Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai di sebuah Masjid kecil namun indah dan masih ramai dengan para jamaah. Aku merasa lega bisa terbebas dari pemuda itu. Aku segera berwudhu dan melaksanakan sholat Magrib. Setelah itu, aku pun berdoa agar dapat segera tiba di rumah dan terhindar dari niat jahat orang lain. Aku rapikan mukenaku dan bersiap untuk pulang.

Ketika kakiku akan melangkah keluar masjid, mataku menangkap sosok pemuda bertato naga itu. Betapa kagetnya aku ketika melihat ia sedang berdoa dan nampak bahwa ia pun telah menunaikan sholat Magrib. Ia pun kemudian berjalan menuju kelas TPA yang berada di samping Masjid. Hatiku bertanya-tanya untuk apa ia ke kelas itu. Dan aku semakin terkejut ketika mengetahui bahwa ia mengajari para anak di TPA itu untuk membaca Al-quran.

Aku tersadar bahwa aku telah salah menilai. Curiga kalau ia mengikuti untuk berniat jahat padahal ia memang hendak munuju masjid ini. Ah, aku terlalu mudah menilai orang lain hanya karena penampilannya saja. Aku terlalu mudah berprasangka buruk pada orang lain. Semoga Allah mengampuni prasangkaku ini.

Waktu telah menunjukkan pukul 19.00. Tak lama kemudian, aku memutuskan kembali menuju jalan raya. Aku harus segera pulang karena tadi pagi aku telah berjanji kepada ayahku untuk tiba saat petang. Kulewati kembali jalan yang tadi kupakai saat turun dari angkutan umum. Tak jauh, kurang lebih 5 menit aku telah tiba di bibir jalan. Alhamdulillah, angkutan umum langsung hinggap dimana aku berdiri menantinya. Setelah ku masuki angkutan itu ku katakan pada sopir, "Pak, turun di gang sepuluh ya!" seruku.

Selama perjalanan kumanfaatkan waktuku untuk mengulang hafalan. Mulut seperti menguyah namun tak bersuara. Jika lupa, ku buka smartphone milikku, lalu kembali melanjutkan mengunyah hafalan.

"Assalamu'alaikum..!" sapa ku saat memasuki rumah. 

Rumahku? Eerrr, bukan. Maksudku rumah milik orang tua ku. Berukuran 90 meter persegi tapi berlantai dua. Dindingnya didominasi warna putih tulang. Didalamnya ada empat kamar. Kamarku berada di lantai atas.

Setelah kulepaskan sepatu, aku bergeges menujukamarku. Tangga menuju lantai dua berada di sisi paling barat di rumah ini. Tangga itu bersebelahan dengan ruang tidur orang tuaku. Saat aku mulai menaiki anak tangga, tak sengaja aku menengok ke arah dalam ruang tidur orang tuaku. Ku lihat disana ayahku sedang bercengkrama dengan ibu. Ayahku sepertinya terlihat serius. Entah aku tak tahu. Badanku terpaku, terdiam sesaat, lalu melanjutkan kembali langkah kaki menuju anak tangga berikutnya.

Tiba di kamar, aku memaksa diri untuk bersuci yang kemudian dilanjutkan Shalat Isya. Aku takut jika sudah terbaring di atas kasur nan empuk malah melenakanku dari kewajiban aku. Maka dari itu selepas menaruh tas, aku langsung menuju kamar kecil untuk mandi dan berwudhu. Tak lupa aku mendoakan kedua orangtuaku saudara, dan teman-teman yang aku cintai. Semoga apa yang diazamkan diijabah oleh Allah.

Selepas Shalat, aku mencoba menebak-nebak apa isi obrolan ayah dan ibuku. Apa yang membuat mereka sampai terlihat serius, sampai-sampai mereka mungkin tidak tahu kedatanganku. Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku.

"Apakah aku telah berbuat salah?"

"Ataukah ayah dan ibu sedang terlibat permasalahan?"

"Ataukah mereka merencanakan sesuatu"
 
Ah, entahlah... Badanku hari ini terlalu lelah untuk memikirkan hal itu. Kemudian aku memeluk erat teman tidurku sambil mulut komat-kamit melantunkan doa sebelum tidur, “Bismika Allah......"

***
Keesokan paginya, seperti biasanya, aku terbangun sebelum adzan subuh berkumandang. Seperti jam biologis yang telah teratur dengan presisi, setiap hariku pasti terbangun di jam yang sama. Bedanya, kali ini aku terbangun dengan pikiran yang kacau, aku semakin bertanya-tanya tentang apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuaku tadi malam. Ah, aku tak kunjung menemukan jawaban! Aku pun segera bangun dan mengambil air wudhu.
 
Dini hari seperti ini memang waktu yang sering aku nantikan. Tak ada alasan lain, aku hanya ingin berlama-lama bercerita kepada Rabbku. “Doaku hari ini tak sama dengan yang kemarin, ya Rabb!” bisikku ke dalam hati. Ya, kali ini aku bercerita kisah yang berbeda, pun mengucap doa yang berbeda. “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kesalahan-kesalahan yang tanpa sengaja aku lakukan, juga dari prasangka yang membuatku menduga dan menerka apa-apa yang tak sanggup kupikirkan dengan logika.” 

Tanpa sengaja, air mataku pun jatuh susul-menyusul. Hingga aku dikagetkan dengan suara ketukan dari balik pintu. Rupanya Ibu memasuki kamarku.

“Nak, mengapa kamu menangis?”

“Aku salah apa? Mengapa Ayah dan Ibu begitu serius membicarakan aku semalam?”
 
“Nak, ...” Ibu tersenyum membuatku bingung, “Tak ada yang salah denganmu, Ibu dan Ayah hanya sedang merencanakan hadiah kelulusan untukmu. Kami sudah memesankanmu satu kursi keberangkatan ke Tanah Suci untuk melaksanakan umrah. Bulan depan kamu berangkat ya, Nak!”
 
Aku terkejut bukan main! Kupeluk Ibu sambil menangis haru di pelukannya. Aku malu pada diriku sendiri. Mengapa aku selalu dengan mudahnya memberikan penilaian buruk kepada orang lain? Bukankah aku harus berhati-hati karena sebagian besar dari prasangka itu dosa? Allah, ampunilah dosaku.

Read More

Kamis, 09 Juni 2016

4. Saran Sebelum Memberikan Saran

Adakah disini yang pernah atau sering memberikan saran atau nasihat? Entah itu kepada saudaranya, teman-temannya, atau juga orang-orang yang berada disekelilingnya. Pernah?

Saya punya cerita, ada seorang mahasiswa. Siang itu, selepas jam kuliah usai, ia buru-buru menuju tempat parkir sepeda motor. Ia memiliki jadwal mengajar private dan jarak tempat ia mengajar dari kampusnya kurang lebih 15 menit perjalanan normal.

Sekeluarnya dari kampus, ia langsung menggeber motor bebek miliknya jauh ke arah timur. Menerjang panasnya siang dan ramainya jalanan karena berbarengan dengan anak sekolahan pulang. Ia tak peduli akan keringat yang mulai keluar dari kening dan punggungnya. Yang ia tahu hanyalah, ia harus memastikan dirinya tiba di lokasi tepat waktu. Maklum, jam kuliah tadi agak sedikit melebar dari jam yang seharusnya. Kini hanya tersisa waktu 10 menit untuk tiba ke lokasi.

Di tengah perjalanan, ia merasa janggal terhadap sesuatu yang berada di depannya. Seorang bapak paruh baya sedang mengendarai sepeda motor. Sekilas tampak normal atau biasa, namun  apabila diteliti, ada yang janggal dengan sepeda motor itu. Standar (di tempat saya disebut ‘jagrak’) sepeda motor itu belum diangkat. Tentu hal ini sangat membahayakan penggunanya.

Lantas sang mahasiswa tersebut berinisiatif untuk memberi tahu. Ia merasa berkewajiban untuk menginformasikan bahwasannya ada yang tidak aman dari sepeda motor bapak paruh baya tersebut. Kemudian mahasiswa itu mulai meningkatkan gas-nya. Mencoba mendekat ke arah sebelah kanan bapak tersebut.

“Bapak, standarnyaa.. standar!!” sapa mahasiswa itu sambil mencoba tersenyum nan tegas.

“Oh iya mas.. suwun! (makasih!)” balas bapak itu sambil mengangkat tuas standar.

Mahasiswa tersebut melihat bapak itu tersenyum, ia terlihat senang ada yang mengingatkannya terkait standar yang belum diangkat. Mahasiswa itu juga lega, ia merasa ada satu kebaikan yang telah ia berikan kepada orang lain.

Tak sampai 2 meter mahasiswa itu melebihi  bapak paruh baya itu, ia melihat dari arah spion-nya. Bapak itu balik mencoba mendekati dirinya. Dalam hatinya Ia keheranan, “Ada apa gerangan? Mengapa bapak itu meningkatkan volume gas motor miliknya?”

Ia mulai menebak-nebak, “Ada apa ya? Apa karena saya ganteng? (wkwkwkwk) Apa bapak itu mau memberi saya imbalan uang karena sudah diingatkan? (wah ini lumayan) Ataukah bapak itu ingin menawarkan anak perempuan milikinya untuk dinikahi oleh dirinya? (oh my God.. ini kejauhan, hehe)”

Mahasiswa itu mulai was-was, ia merasa ada yang tak beres dengan dirinya. Semakin ia menggeber motor miliknya, semakin digeber pula motor milik bapak tersebut. Kemudian arena jalanan mulai menjadi seperti sirkuit moto gp bagi dua orang tersebut. Brrrrrr...

Tak lama mahasiswa tersebut menyadari ada yang salah pada dirinya. Sesuatu yang tampak di lain pulau tapi tak tampak pelupuk mata sendiri.

 “Ah, aku tahu, ternyata standar milikku juga belum diangkat -____-‘” fiuuhh...

Ada perasaan malu sekaligus geli terhadap dirinya. Ternyata bapak itu mengejarnya karena standar miliknya juga belum diangkat (OMG), bukan karena yang lain. Lepas ia mengangkat standar tersebut, diliriknya spion. Ia melihat bapak itu mulai mengurangi gas miliknya dan mengangkat jempol tanda bahwa apa yang ia maksud sudah benar. Aduuuhh... malunya hati mahasiswa itu. Maksud hati menasehati orang lain, tapi diri sendiri lupa bahwa ia juga melakukan kesalahan yang sama.

---
Yap! Apa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah diatas? Seringkali dari masing-masing manusia sangat suka apabila menasehati teman ataupun saudaranya. Ada hal yang menggebu-gebu dalam diri untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah terhadap orang lain. Mengatakan bahwa yang ini salah yang ini benar. Tapi lupa terhadap dirinya.

Jangan lupa bahwa nasehat itu ibarat cermin. Selain untuk orang lain, nasihat itu juga berlaku untuk diri sendiri. Selalu pastikan bahwa diri kita menjadi yang pertama dinasehati sebelum menasehati.
Nggak mau kan kejadian kayak cerita diatas. Setelah menasehati, eh ternyata diri kita melakukan hal yang sama seperti orang kita dinasehati.. ahhh malunya.. 

Semangat!


****

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30DaysWriting Ramadhan 1437H dengan tema "SELFIE - Let's Look Into Yourself!" Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di liveniping.com. Tulisan lain dengan tema yang sama dapat dibaca di novieocktavia.tumblr.com dan www.iqbalhariadi.com. Selamat membaca!
Read More

Rabu, 08 Juni 2016

3. Yakinkan Dirimu yang Terbaik!

Ada sebuah cerita dimana pada waktu itu seorang remaja pas-pasan ditawari sebuah pekerjaan yang mana belum pernah ia coba atau kenali sebelumnya. Dikatakan kepadanya, “Sangat banyak yang berminat menduduki posisi ini!”. Ia hanya modal nekat waktu itu. Ia hanya berpedoman, “Allah telah memilihku menjadi orang genius!”

Lalu ia berangkat menuju tempat tersebut. Mengenakan kemeja dan bersepatu ala kadarnya. Ia tertohok menatap lawan-lawannya berpenampilan mentereng lagi mengkilat. Sekilas remaja itu merasa bahwa lawan-lawannya bukanlah lawan biasa. Dengan penampilan yang oke, malah menampilkan sosok yang menarik bagi para pemilik kerja.

Tapi ia tak patah arang, toh dia merasa “Gue unik!”. Lalu ia duduk di kursi yang telah disedikan dan salah seorang diantara mereka mulai membuka percakapan.

“Siapa namanya mas?”

“Sudah pernah kerja? Dimana? Berapa tahun?”

Calon pekerja itu menanyai satu persatu lawannya hingga remaja pas-pasan itu pun tak luput dari jatah pertanyaan. Saat satu-persatu calon karyawan tersebut menjawab, remaja itu tertegun. Rata-rata jawaban mereka “Saya sudah pernah kerja disini selama sekian tahun.” #glek!

Ada yang menjawab 2 tahun pengalaman, 3 tahun, bahkan yang hanya lulusan SMA pun juga ikutan bersaing, ia memiliki pengalaman kerja  5 tahun. Ketika tiba giliran remaja itu ditanya ia pun menjawab,”Saya bahkan belum pernah bekerja sekalipun!. hehe” sambil tersenyum garuk-garuk kepala.

Tapi dalam hati remaja itu berkata, “Tak apa aku belum punya pengalaman kerja, tugasku disini hanyalah mencoba. Urusan berhasil atau tidak itu urusan belakang. Apabila berhasil syukur alhamdulillah, bila gagal akan jadi pengalaman”

Tes pun berlangsung, remaja itu mengerjakan dengan segenap kemampuannya. Pun setelah selesai ia tak lupa memanjatkan doa agar apa yang telah ia upayakan memberikan kebaikan padanya.

Tiga minggu kemudian hasil tes keluar. Tak disangka-sangka, remaja itu satu-satunya orang yang diterima bekerja di tempat tersebut. Lantas lawan-lawannya pun saling bertanya pada remaja tersebut tentang rahasia dia bisa diterima di perusahaan itu.

Ia menjawab, “Saya beruntung dilahirkan menjadi orang genius. Dan masing-masing kalian adalah orang genius. Saya ini unik, dan saya percaya akan potensi diri saya. Saya pernah merasa kalianlah yang pantas menduduki posisi tesebut, tapi saya juga punya hak untuk menduduk posisi itu! Lantas saya katakan pada diri saya, bahwa saya mampu! Saya akan berusaha! Dan selanjutnya biarlah takdir yang membawa saya!”

Well, tentunya ukuran berhasil tidak semata-mata karena faktor luck, tapi juga harus ada upaya dalam diri masing-masing untuk mencapai apa yang pernah diinginkan. Remaja itu sadar lawan-lawannya tangguh, maka dari itu ia bersyukur pernah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari sebelum mengikuti tes tersebut. Remaja itu sudah sering mengerjakan soal-soal tes, meski ia sendiri tak tahu untuk apa ia mengerjakan soal-soal tersebut. Tapi sekali lagi dirinya yakin seyakin-yakinnya bahwa tak ada yang sia-sia di dunia ini. Dan bukti ia tak sia-sia adalah dengan diterimanya ia menjadi karyawan di salah satu perusahaan ternama.

Yakinkan dirimu, Tantanglah dirimu, karena usaha tak pernah menghianati hasil! Let’s try!


****
Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30DaysWriting Ramadhan 1437H dengan tema "SELFIE - Let's Look Into Yourself!" Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di liveniping.com. Tulisan lain dengan tema yang sama dapat dibaca di novieocktavia.tumblr.com dan www.iqbalhariadi.com. Selamat membaca!



Read More

Selasa, 07 Juni 2016

2. Ayo Berbuat Baik!

Kita sering mendengar dan membaca bahwasannya setiap perilaku kita akan ada balasannya. Baik atau buruk. Baik akan diganjar dengan kebaikan, begitu pula perilaku buruk akan dibalas dengan keburukan.

Berhubung disini saya ingin dibalas dengan kebaikan, maka akan saya bagikan yang baik-baik. Agar kebaikan tersebut (mudah-mudahan) menyebar kepada siapapun yang ingin menjadi orang baik.

Kalian pernah mendengar istilah ‘hijrah’? Ya, hijrah berasal dari kata bahasa arab yang artinya berpindah. Berpindah atau beralih kepada sesuatu yang lebih baik. Istilah hijrah tenar sekali digunakan ketika peristiwa pindahnya kaum muslimin beserta Rasulullah SAW dari kota Makkah menuju  Kota Madinah. Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah yang sangat besar bagi kemajuan umat muslimin. Pemeluk umat islam semakin banyak, dakwah semakin meluas, dan menjadi umat yang disegani oleh musuh-musuhnya.

Oke, karena kita sudah seringkali membaca cerita itu (eh? Beneran sudah tau kisah diatas belum?), yang ingin saya tekankan disini adalah hebatnya hijrah itu! Why? Coba kita masing-masing bayangkan, bagaimana rasanya pindah dari tempat yang dulunya pernah membuat diri kita benar-benar nyaman, dan aman. Sepenuhnya pindah dari tempat dimana banyak kenangan, banyak pengalaman, dan pelajaran. Pindah dari teman-teman yang menyenangkan. Pindah dari obrolan-obrolan yang renyah. Pindah dari suatu hal yang bagi kita sebelumnya dianggap benar. Bagaimana?

Atau mungkin kalian bisa tanyakan bagaimana rasanya proses seorang (mantan) perokok yang kemudian benar-benar berhenti dari rokoknya. Atau bisa kalian tanyakan kepada orang yang dulunya tak berhijab akhirnya memutuskan untuk berhijab. Atau bisa kalian tanyakan kepada orang yang dulunya banyak harta akhirnya memutuskan untuk hidup sederhana. Atau juga bisa kalian tanyakan kepada artis-artis papan atas yang akhirnya memutuskan untuk pensiun dari dunia ketenaran (kalo ketemu sih, kalo g ya kalian bisa ketemu saya kok, hehehe)

Kesemuanya hijrah karena ‘yakin’ bahwa proses tersebut akan menuntunnya menuju perubahan yang lebih baik. Seorang yang baik akan terus-menerus melakukan proses hijrah. Karena sesiapapun itu ia harus memastikan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Ada yang bilang jika ingin bahagia maka berbuatlah kebaikan. Contoh, (praktekkan yaa). Pagi-pagi ketika kamu tiba di tempat kerja, bukalah pintu secara perlahan, lalu tebarkanlah senyum terbaikmu keseluruh orang yang kamu temui di ruangan itu. Dijamin senyummu menular. Mereka juga akan terjangkit virus senyum yang kau tebarkan. Dan kamu mulai merasakan kebahagian di dalam dadamu. Perlu dicatat, selemah-lemahnya sedekah adalah senyummu untuk saudaramu. Berarti senyum itu kebaikan. Langsung dibalas kebaikan (senyuman teman-teman). Dan kebaikan itu membawa kebahagiaan.

Atau bisa dengan cara lain. Seperti memberikan sedekah. Mengajak teman baca Al Qur’an. Membantu ibumu menyiapkan sarapan. Menawarkan pijat gratis pundak ayahmu ketika ia lepas kerja. Hal-hal yang sederhana dulu. Jika yang sedikit itu memuaskanmu, maka tingkatkan lagi menjadi yang lebih kompleks. Dan proses itu juga bisa dinamakan proses hijrah.

Ahh.. senang rasanya bila semua orang berhijrah. Berlomba-lomba menjadi lebih baik. Karena semangat berbuat kebaikan juga akan menular menuju kebaikan!


Ayo berbuat baik!!
Read More

Senin, 06 Juni 2016

1. Refleksi Sepi

Pernahkah saya merasa kesepian? Pernah. Yakin? Yakin! Sering malahan :v

Diantara kita pasti pernah merasakan kesepian. Entah itu ‘merasa’ tak punya teman, ‘merasa’ tak ada yang bisa diajak bicara, ‘merasa’ tak ada tempat untuk berkeluh kesah, atau mungkin ‘merasa’ tak mungkin bisa memiliki pasangan (loh.. ini kejauhan, hehe)

Yap! Adakalanya kesepian itu datang. Tak dipanggil pun datang. Terkadang saat kita baru saja tiba di rumah selepas kerja dan mendapati sekeliling rumah kosong. Melihat tetangga kanan kiri juga sepertinya memiliki kesibukan sendiri di dalam rumahnya. Mencoba menghubungi teman atau sahabat ternyata juga demikian, ada jeda sekian lama menunggu balasan.

Lalu tiba-tiba suasana menjadi hening. Benar-benar hening. Hanya terdengar sesekali suara motor lalu lalang. Suasana sore yang jarang terjadi. Seakan-akan sudah diskenariokan oleh Tuhan agar suasana kesepian semakin dramatis.

Kemudian kita mencoba duduk bersandar. Mencoba menikmati suasana senja seperti ini yang jarang sekali datang. Memandang luas indahnya langit sore, bergaris-garis putih dengan latar warna senja. Sekelompok burung berlomba-lomba untuk segera kembali pulang ke sarangnya. Angin mendayu-dayu seakan mengajak ranting untuk menari-nari diatas penderitaan orang kesepian.

“Aku, apa saja yang sudah kulakukan hari ini?”


Sempatkah tadi lisanku berucap kasar kepada orang? Sempatkah tadi indra penglihatanku memicingkan kehidupan orang? Sempatkah sikapku tadi merendahkan orang? Sempatkah tadi hatiku mencurigai seseorang? Sempatkah tadi aku melupakan sebuah janji? Sempatkah tadi berlaku curang? Sempatkah tadi mengacuhkan orang? Sempatkah? Sempatkah?


“Ahh.. jikalau sempat, lalu apa yang harus aku perbuat?”

Tiba-tiba ada yang hadir dalam lubuk hati kita. Seperti sesuatu yang menyeruak ke atas permukaan. Mengirimkan sinyal-sinyal suci. Melontarkan sebaris kata dalam diri, “Sini,,, kembalilah pada-Ku..”

Allah hadir dalam diri kita. Ia ingin menyambangi diri kita. Menyapa kita, menyapa dengan cara me-rewind  perilaku kita. Selama ini Ia diduakan oleh kita. Kita menjauh dari-Nya. Tak menyadari bahwa selama ini setia berada di sisi kita hanyalah Allah semata.

Seringkali semua permasalahan datang karena diri kita sendiri. Lupa sebenarnya ada Dzat yang Maha Melihat, Maha Mendengar. Allah menghadirkan sepi agar kita kembali mengingat-Nya. Agar kita kembali bertaubat kepadanya. “Innahuu kaana tawwaabaa” (An Nasr : 04)


Ah, indahnya sepi ini. Harusnya sering-sering ia menyambangi. Mengajak dialog kepada diri sendiri.
Read More